IDUL FITRI 2025
(1 Syawal 1446 Hijriyah)
Lebaran kali ini sebenarnya tidak ada yang berbeda. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, masih di rumah mertua dan masih di Surabaya. Tanpa mudik, tanpa war tiket. Dan tidak ada deretan toples sepanjang jalan kenangan, eh?
Yah, itu karena adat lebaran di sini dan di Lampung wilayah saya kecil dulu berbeda.
Jika di Lampung daerah saya, tamu unjung-unjung pada duduk dan mengobrol sampai lama. Wajib nyicipin kue lebaran. Kalau di sini, tamu hanya salaman lalu pergi lagi. Hanya saudara yang duduk dan mengobrol. Itupun hanya sebentar. Paling lama dua puluhan menit. Jadi tidak perlu menyediakan banyak kue. Sepuluh sampai dua puluh toples sudah lebih dari cukup. Ini menurut pengamatan saya lho ya…
“Jadi kamu mau ngomongin apa lebaran kali ini, Da?”
Hehe… tahun ini ada satu kegiatan yang berbeda bagi saya. Yaitu, saya ikut ke makam bapak mertua!
Bukan prestasi sih, tapi ini perlu saya abadikan, mengingat ini adalah pengalaman pertama saya.
Berangkat bareng suami dan anak-anak, serta keluarga Mbak Ipar dan adik suami, kami sampai di tanah pemakaman wilayah Romokalisari.
Selama ini saya belum pernah ikut, karena setiap kali anak-anak mertua mengunjungi makam, saya masih disibukkan dengan urusan dapur, dan urusan anak. Plus saya juga penganut, mendoakan orang yang sudah meninggal dunia, tidak harus ke kuburannya, bisa dilakukan di atas sajadah di dalam rumah.
Saat sudah berada di makam, setelah menyapukan pandangan di banyak sudut, baru saya merenung, ada banyak sekali makam yang sepertinya tidak dikunjungi oleh kerabat hidup mereka, sehingga tidak terawat, rumputnya, kondisi nisannya, ternyata itu berhasil membuat hati saya sedih saat melihatnya. Membayangkan lebih jauh, jika orang tua saya telah tiada, akankah makam mereka terawat? Akankah anak cucunya peduli? Sementara saya berada jauh dari mereka.
Jika saya yang meninggal dan dikubur, akan adakah yang datang dan membersihkan kuburan saya? Huhu… sejauh itu.
Etapii saya masih mau berumur panjang sih. Minimal sampai melihat anak-anak kami sukses dan siap dunia akhirat. Aamiin.
Aslinya saya juga masih bertanya-tanya sih, apakah ahli kubur membutuhkan tempat terawat untuk mengistirahatkan jasad mereka? Atau, tepatnya, apakah ahli kubur tahu/dapat merasakan saat kerabatnya datang dan merawat tempat peristirahatan terakhir jasad mereka? Ataukah cukup doa anak keturunan saja yang mereka butuhkan?
Saya sendiri jarang ziarah. Bukan karena saya tidak mau, tetapi karena memang tidak ada yang mengajak, sementara family keluarga bapak dan mamak jauh semua.
Pernah sih sekali, waktu pernikahan kami belum ada satu tahun. Saat itu adalah mudik pertama kami ke Surabaya, dan waktu itu bulan puasa. Saya datang ke makam bapak mertua sama suami. Saat itu kami belum ada anak, sehingga bisa gerak cepat dan bebas karena belum sesibuk sekarang.
Itu menjadi pengalaman pertama saya mengunjungi suatu makam dalam hidup saya.
Saat itu kondisi makam sangat sepi Hanya ada kami berdua, karena bukan hari raya, tetapi masih Ramadhan.
Tadi pagi saya berkesempatan ikut nyekar di makam bapak mertua. Sayangnya saya tidak membawa hape, karena ternyata ada hal yang seharusnya bisa saya abadikan.
Sebagai pengalaman pertama, tentu saya baru tahu kalau ternyata di hari raya Idul Fitri seperti ini, makam sangat ramai oleh pengunjung. Hampir semua makam ada pengunjungnya. Orang dengan berbagai busana muslim muslimah yang baru. Parkiran motor yang penuh. Pejalan kaki dengan tentengan bunga di tangan.
Saya sedikit kaget juga. Kuburan tapi kok seramai ini? Sudah seperti pasar saja rasanya. Menurut suami, kondisi makam memang seperti ini setiap hari raya Idul Fitri. Selalu ramai orang berkirim doa. Masya Allah… Semoga doa doa itu melangit, dan membuat bahagia para ahli kubur.
Dan hari ini, saya juga melihat, ternyata penting juga menziarahi makam, setidaknya agar kuburan mereka tetap bersih dan terawat. Jadi pengen ikut lagi tahun depan.
Yah, meskipun saya belum hafal apa saja yang harus dibaca, minimal masih bisa mendengar dan mengikuti suara suaminya Mbak Ipar yang memimpin bacaan dan doa.
Mungkin ada tiga puluhan menit kami di makam. Membaca yasin, dan doa-doa. Setelah itu menabur bunga, dan pulang.
Selanjutnya kami sarapan.
Tidak ada rendang. Sarapan kali ini saya makan ayam bakar dan nasi yang dibawa suami dari masjid.
Pagi usai sholat Ied suami ke masjid membawa nampan berisi nasi dan lauk untuk tasyakuran di masjid. Pulangnya nampan dia juga dalam keadaan berisi. Hanya saja isinya berbeda.
Jika yang dibawa pagi adalah masakan ibu mertua berupa nasi, ayam merah, telur dan lain-lain, pulangnya berisi semangka iris, sedikit nasi, ekor bandeng kecap, ketan, dan dua potong ayam bakar.
Nah, yang saya dan anak-anak makan adalah ayam bakar dan sedikit nasi putih. Saya tidak makan masakan sendiri karena sedang tidak berselera.
Selesai sarapan, kami berangkat keliling kampung bersama Mbak Ipar dan keluarganya. Lanjut sampai selesai sekitar pukul sebelas.
Kebetulan saya juga tidak membawa ponsel, jadi tidak tahu tepatnya jam berapa. Saat berada di tiga rumah terakhir, dari masjid mulai terdengar suara pengingat, bahwa waktu zuhur sudah hampir tiba.
zuhur di sini sekitar jam 11.30, tetapi suara pengingat dari masjid biasanya sudah diputar (kalau tidak salah) tiga puluh menit sebelum azan.
Selesai unjung-unjung (berkunjung ke rumah warga), kami langsung pulang ke rumah. Setelah itu anak-anak langsung saya suruh melepas dan berganti semua pakaiannya, karena mau saya cuci, supaya bisa dipakai lagi besok, ke tempat saudara di desa.
Setelah itu saya mandi, salat zuhur. Ini juga merupakan salat pertama saya setelah tanggal 18 lalu datang bulan. Hoho, utang puasa saya banyak, Booo..
Setelah itu saya makan siang dengan gulai labu siem dan kerupuk yang saya masak pagi tadi, plus lontong dari dikasih ibu mertua. Alhamdulillah tidak harus ada rendang untuk menikmati hari raya idul fitri. Masakan sederhana seperti yang saya sebutkan di atas, juga sudah terasa sangat nikmat.
Setelah itu saya membuat postingan ucapan Idul Fitri untuk media sosial. Lalu istirahat sambil menulis untuk postingan ini.
Malamnya, makan lontong gulai daging kacang ijo di tempat mertua.
Jadi, bagaimana dengan Idul Fitri di tempatmu?
Selamat hari raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan batin.
***
Surabaya, Senin 31 Maret 2025 (20:00)
Emoticon